Daftar Blog Saya

Sabtu, 23 Januari 2010

persahabatan

Angin sore berhembus dengan lembut, membungkus diriku dalam hangatnya udara musim panas. Aku melepaskan sandalku dan menjinjingnya. Aku suka merasakan pasir-pasir lembut ini masuk ke sela-sela jariku, merasakan kakiku tertimbun olehnya. Deburan ombak yang berdesir mengikuti irama langkahku terdengar seperti musik di telingaku.
Di sebelahku, Niko menghirup dalam-dalam udara pantai yang segar dan basir asin. Rambutnya yang berwarna coklat ditiup angin dan menari-nari menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak berubah sama sekali sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Aku tidak dapat mengingat kapan terakhir kali aku merasa sedamai ini....
Aku pertama kali bertemu dengan Nicholas di pantai ini. Hari itu, Niko – begitu panggilanku untuknya, terlihat seperti mahasiswa Indonesia kebanyakan yang bersekolah di San Francisco. Dalam balutan jeans yang digulung sampai lutut dan kaos biru muda, ia terlihat santai dan tanpa beban. Dan justru hal itulah yang menarik perhatianku kepadanya.
Perkenalan kami berlanjut ke barter nomor handphone dan alamat, dan tidak lama kemudian kami pun menjadi sahabat karib. Kepadanya yang santai dan easygoing, aku dapat mencurahkan semua masalahku, terutama mengenai pacarku yang sedang bekerja di Indonesia.
Segala kekhawatiranku, kekesalanku dan kecurigaanku pun dihapus Niko dengan mudah melalui canda tawa dan saran-saran yang diberikannya. Kepadanya aku juga menceritakan bebanku sebagai anak tertua di keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki sama sekali—bagaimana aku harus sekolah tinggi demi meneruskan usaha Papa, dan pada saat bersamaan menjadi teladan bagi adik-adikku yang sudah tidak memiliki seorang Mama.
***
"Tahu nggak, Sha, apa masalah kamu?" tanya Niko suatu saat dengan mimik yang lucu. Hanya dia yang dengan berani-beraninya memendekkan namaku, Sarah, menjadi 'Sha'. Biar demikian, aku cukup menyukainya sih. Aku tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalaku.
"Kamu ini terlalu bagaimana ya, nggak santai! Kamu harus lebih terbuka sama orang lain, lebih easygoing.... Pernah nggak sih, semua yang kamu ceritakan ke aku kamu ceritakan ke pacarmu? Nggak pernah, kan? Kamu harus lebih banyak share sama dia. Wajar saja dia marah kalau kamu nggak suka cerita. Kalau begitu terus, dia akan jadi merasa tersisih, Sha," sambung Niko panjang lebar.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Benar juga, sih. Rio memang suka marah kalau aku menceritakan soal Niko, bagaimana dekat aku dengannya, dan bagaimana aku merasa bebas menceritakan masalah-masalahku. Atau, apa mungkin dia cemburu ya? Aku tertawa geli membayangkannya. Walaupun keren dan banyak cewek yang naksir, Niko itu cerewet sekali kepadaku, sampai-sampai terkadang aku menjulukinya 'my sister' – habis, seperti cewek, sih! Namun, aku yakin dia bukan gay karena ia pernah menceritakan kisah cintanya yang dulu padaku.
Persahabatan kami pun berlanjut terus, sampai tiba waktunya kami berdua harus kembali ke Jakarta karena kuliah kami sudah tuntas. Begitu sampai di Jakarta, aku memperkenalkannya kepada Papaku, yang sangat menyukainya. Namun, ketika aku memperkenalkannya kepada Rio, reaksi pacarku selama lima tahun tersebut benar-benar tidak kusangka.
"Aku nggak suka sama dia, Sar!" ujar Rio datar, dengan ekspresi masam yang membuat wajah gantengnya menjadi tidak enak dilihat. "Aku pingin kamu menjauhi dia. Toh sekarang sudah ada aku, kamu juga tidak perlu dia lagi, kan? Kalau mau teman jalan-jalan, kan ada Cindy, Rosa, atau Bianca...." lanjutnya sembari menyebutkan nama teman-temanku saat SMA dulu.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Rio tidak mengerti arti persahabatan Niko bagiku. Dia memang benar-benar cemburu. Namun saat itu, aku mengira kecemburuannya hanya akan berlangsung sementara saja. Toh, kalau dia sudah mengenal Niko lebih baik, pasti dia akan menyukainya.
Di sisi lain, walaupun Rio sangat tidak ramah kepadanya, Niko tetap ceria dan menganggap Rio sebagai teman. Ia juga masih sering menghubungiku, dan kadang-kadang ia main ke rumahku untuk menemani adik-adik perempuanku yang masih kecil-kecil. Mereka suka sekali dengannya karena ia pandai bercerita dan masakannya sangat enak. Selain menemani si kecil Natasha bermain dan membaca, Niko juga sering membantu memberikan solusi-solusi masalah cowok untuk Theresia yang mulai beranjak remaja. Tahun demi tahun terlewati, dan Niko tetaplah teman yang terbaik untukku. Kami sering bertemu, sekedar hanya untuk berbincang-bincang. Kami bahkan mengajukan diri untuk menjadi guru sekolah minggu di gereja bersama-sama.
Hubunganku dengan Rio juga menjadi semakin serius. Kami telah berpacaran selama lebih dari tujuh tahun. Ia sudah bekerja untuk Papa, membuat pernikahan semakin berada di dekat mata. Bagiku, semua yang kami lewati bersama telah menjadi suatu pattern yang amat sangat predictable. Ya, mengapa aku harus khawatir? Rio laki-laki yang baik, dia luwes dalam pergaulan dan akrab dengan semua saudara-saudaraku, mempunyai tabungan yang lebih dari cukup untuk memulai suatu rumah tangga dan kami tidak pernah berselisih lebih dari pertengkaran-pertengkaran kecil. Dan bukankah aku juga telah mengenakan cincin 'janji' dari Rio?
Akan tetapi sore itu aku tidak mengenakan cincin tersebut. Aku tidak pernah mengenakannya apabila sedang bersama-sama Niko. Rio telah memberikan ultimatum kepadaku seminggu yang lalu, sebelum aku dan Niko berangkat bersama-sama ke San Francisco untuk menghadiri reuni angkatan kami saat kuliah dulu.
"Aku nggak mau kamu dekat dengan Niko lagi. Kita sebentar lagi akan menikah Sar, dan aku sering mendengar orang-orang mempergunjingkan kedekatanmu yang tidak wajar dengan Niko. Bagaimanapun juga dia laki-laki dan kamu perempuan. Aku percaya kepadamu, tapi kamu harus memutuskan hubunganmu dengannya," ultimatum Rio. Tanpa ekspresi. Dingin sekali.
Aku menoleh ke sampingku dan melihat Niko yang juga sedang menatapku dengan tatapan matanya yang lembut. Hari ini aku harus mengatakannya. Katakanlah! Jeritku dalam hati. Katakan kalau kamu tidak dapat menemuinya lagi! Namun pada saat kata-kata yang telah aku persiapkan hendak meluncur dari bibirku, aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan sebaliknya merangkul pundak Niko. Pada saat itu, aku menyadari sesuatu yang telah aku sangkal selama bertahun-tahun. Aku tidak dapat mengakhiri persahabatanku dengan Niko karena aku membutuhkannya setiap hari untuk seumur hidupku. Aku ingin selalu melihatnya tersenyum, mendengarkan canda tawanya dan merasakan kehadirannya di sisiku ketika aku sedang sedih dan gundah. Ternyata aku menyayanginya dan membutuhkannya lebih dari seorang sahabat.
Aku menatap ke dalam bola matanya yang berwarna hitam pekat bagaikan telaga. "Sejujurnya, aku... aku sayang kamu... aku nggak bisa kehilangan kamu...." Airmataku pun tumpah membasahi kemejanya.
Namun Niko hanya diam memelukku dan mengusap rambutku.
Setelah tangisku terhenti, barulah ia memegang kedua pundakku dan menatap lurus ke dalam mataku. "Tahukah kamu Sha, apa yang selalu kudoakan setiap minggu di gereja?" Ia tersenyum. "Aku mendoakan kebahagiaanmu. Namun jika ia tidak bahagia bersama Rio, Tuhan, maka izinkan aku yang membahagiakannya...."
Tangisku pun pecah kembali dan kami berpelukan lama sekali, seperti dua orang yang baru menyadari cinta mereka berdua. Angin bertiup dengan pelan, ombak berdesir dengan lembut... seakan menjadi saksi cinta kami berdua.
Sejak saat itu, aku dan Niko tidak pernah lagi mengenal kata berpisah. Sore itu aku menyadari bahwa aku bertanggung jawab atas kebahagiaanku sendiri. Kata orang, cinta yang sejati tumbuh karena kebersamaan. Kadang kala, orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu, karena takut kau berpaling dan memberi jarak. Namun bila suatu saat ia pergi, barulah kau akan menyadari, bahwa ia adalah cinta yang tidak kau sadari. Tampaknya, aku tidak hanya sekedar membutuhkan Niko.... Aku telah jatuh cinta, walau aku tidak pernah menyadarinya sampai detik aku hampir kehilangan dirinya.

Ternyata aku cinta dan kutakut
kehilangan dirimu yang kukasihi....http//:ww.cafenovel.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar